Minggu, 22 Juli 2012

Bingung pilih asuransi?Temukan jawaban dan solusinya bersama prudential

Bingung memilih produk asuransi atau investasi di antara berbagai banyak pilihan? Tak perlu repot membuat perbandingan produk yang paling menguntungkan karena kebutuhan tiap orang berbeda. Anda tinggal klik tautan di bawah lalu isi data sesuai kondisi Anda. http://www.prudential.co.id/pruweb/index.php?mn=findproduct

Sudah cek kesehatan rutin?

Sudahkah Anda melakukan cek kesehatan rutin tahunan? Sudahkah Anda menjalankan gaya hidup sehat? Jika hal itu tak Anda lakukan, maka memliki proteksi terhadap penyakit kritis sangat perlu untuk dipertimbangkan. http://www.prudential.co.id/pruweb/inc_html/escc.html

Jika Anda pemegang kartu PRUhospital & surgical, tak perlu bingung saat mengalami sakit secara mendadak. Anda bisa cek daftar Rumah Sakit yang telah menjadi PRUhospital friend di link berikut http://www.prudential.co.id/pruweb/img/PRUhospital-friend-for-PRUupdate--12-02-12.jpg

6 Kesalahan Keuangan yang Dilakukan Orangtua Baru

Jakarta - Saat pasangan memutuskan untuk memiliki anak, artinya mereka sudah sadar konsekuensi yang akan didapat terutama dalam hal keuangan. Sayangnya para orangtua baru sering melakukan enam kesalahan keuangan berikut ini.

Saat baru memiliki bayi, Anda dan pasangan tentu tengah dilimpahi kebahagiaan. Perhatian Anda dan suami juga seringkali hanya fokus pada kebutuhan utamanya, seperti susu, pakaian, popok dan makanannya.

Dengan segala kesibukan dalam mengurus bayi itu, Anda dan suami pun jadi melupakan kalau si kecil juga perlu dipikirkan perencanaan keuangannya. Kenapa perencanaan keuangan ini penting dipikirkan sejak dini, agar masa depan anak nantinya lebih terjamin.

Sayangnya tidak sedikit orangtua yang melakukan kesalahan keuangan saat baru memiliki bayi. Berikut enam kesalahan itu seperti dikutip dari MSN:

1. Tidak Punya Asuransi Jiwa
Ketika Anda dan pasangan menjadi orangtua, memiliki asuransi jiwa sangat diperlukan. "Jika salah seorang dari Anda meninggal, Anda harus memastikan kebutuhan yang ditinggalkan tetap bisa terpenuhi," ujar ahli perencanaan keuangan asal California, Lynn Ballou.

Ballou menambahkan meskipun Anda atau pasangan sudah mendapatkan asuransi jiwa dari kantor, hal itu tetap belum cukup. Ia pun menyarankan belilah produk asuransi saat Anda dalam kondisi sehat, jangan menunggu sakit karena akan lebih mahal.

2. Membeli Asuransi Jiwa untuk Bayi
Marilyn Capelli, ahli perencanaan keuangan asal Michigan mengatakan membeli asuransi jiwa untuk bayi sebenarnya tidak perlu dilakukan. "Anda membeli asuransi jiwa untuk seseorang hanya jika meninggalnya orang itu membuat kondisi keuangan memburuk," katanya.

Asuransi jiwa untuk bayi perlu dimiliki jika memang anak memiliki kondisi kesehatan yang tidak baik. "Jarang sekali anak sehat akan memiliki masalah kesehatan saat dewasa," ujar Capelli.

3. Menunda Menabung untuk Kuliah Anak
Tidak sedikit orangtua yang mulai menabung untuk biaya kuliah saat anak memasuki usia SMA. Jika hal itu dilakukan, sudah sangat terlambat.

"Waktu terbaik untuk memulai adalah saat anak baru lahir," tutur ahli perencanaan keuangan asal Maryland, Amerika Serikat.

Sekarang ini ada berbagai cara untuk mulai mengumpulkan uang yang akan dipakai sebagai biaya kuliah anak. Selain dengan menabung, Anda juga bisa melakukannya dengan berinvestasi. Namun yang perlu diingat, setiap investasi baik itu emas atau reksadana memiliki risiko masing-masing.

4. Melupakan Dana Pensiun
Saat Anda dan pasangan menabung untuk biaya kuliah anak, Anda merasa keuangan Anda di masa depan sudah aman. Anda dan suami pun jadi lupa kalau sebenarnya setiap pasangan seharusnya juga memikirkan dana pensiun.

"Menabung untuk dana pensiun seharusnya adalah yang pertama dilakukan, dana kuliah di urutan kedua," jelas Ballou. "Anda, suami dan anak bisa memikirkan cara lain bagaimana bisa tetap sekolah. Akan lebih buruk jika anak Anda malah harus membiayai Anda saat Anda dan suami pensiun," tambahnya.

5. Boros Dalam Hal Berbelanja Kebutuhan Bayi
Semakin tinggi pendapatan, semakin besar juga pengeluaran Anda dan pasangan untuk membesarkan anak. Menurut data dari Department of Agriculture di Amerika Serikat, pada 2003, seorang anak yang lahir di 2003 dengan pendapatan orangtuanya lebih dari US$ 65.400 setahun, pengeluaran untuk membesarkannya butuh uang lebih dari US$ 344 ribu. Uang tersebut hanya cukup untuk si anak sampai berusia 18 tahun.

Maryland berpendapat, banyak orangtua berpikir apa yang mereka keluarkan untuk anak semuanya memang penting. Padahal sebenarnya tidak. Faktanya, tidak sedikit orangtua yang mengakui mereka cukup boros di tahun pertama kelahiran dan sebelum si bayi lahir.

"Orangtua baru berpikir mereka membutuhkan semuanya, ingin semuanya sempurna, dan tidak memikirkan biayannya," ujar Maryland.

Oleh karena itu sebelum mulai membeli perlengkapan anak, orangtua baru seharusnya membuat rencana pengeluaran. Anda dan pasangan juga jangan malu untuk memakai barang bekas untuk perlengkapan tertentu seperti stroller dan tempat tidur. Yang perlu diingat, perlengkapan yang dibeli tersebut sebagian besar hanya terpakai selama setahun. Untuk baju malah tidak sampai setahun, Anda sudah harus membelinya lagi.

6. Bekerja atau Jadi Ibu Rumah Tangga?
Beberapa wanita tidak cukup bijak menjawab pertanyaan ini. Tanpa pertimbangan matang, ada yang memilih berhenti bekerja karena ingin sepenuhnya mengasuh si kecil.

Jawaban pertanyaan tersebut sebenarnya mudah saja. Jika pendapatan pasangan cukup untuk memenuhi pengeluaran untuk anak, menjadi ibu rumah tangga tentu pilihan yang baik.

Namun sebelum memutuskan, ada beberapa faktor keuangan yang perlu diperhatikan. Salah satu yang penting adalah keuntungan yang didapat dari kantor jika Anda bekerja, seperti biaya kesehatan anak.

"Buatlah perbandingan apa saja keuntungan dari Anda bekerja atau tidak. Pikirkan juga bagaimana pengeluaran lainnya bisa terpenuhi," ujar Downey.


sumber : wolipop/asuransi jiwa

4 Cara Atasi Masalah Keuangan Bagi Pasangan Menikah

Jakarta - Masalah keuangan, jika tidak segera diatasi bisa membahayakan kehidupan rumah tangga. Oleh karena itu, ada baiknya Anda dan pasangan duduk bersama dan menyelesaikan masalah keuangan, terutama melunasi utang. Seperti yang dikutip dari the nest, ikuti empat langkah ini.

1. Akui Dosa Anda
Sekarang saatnya Anda dan pasangan mengakui segala hal. Mulai dari berapa jumlah kartu kredit hingga total hutang yang dimiliki. Taruh seluruh laporan bak dan kartu kredit, beritahu pasangan mengenai aset serta utang atau segala hal yang berhubungan dengan cash flow di masa depan. Pelajari bersama segala hal mengenai laporan kredit Anda dan pasangan.

2. Cari Tahu Kerusakan
Anda dan pasangan harus mengetahui: Berapa banyak utangmu? Berapa jumlah penghasilan Anda tiap bulan? Apakah Anda memiliki dana pensiun, saham, asuransi jiwa atau investasi? Berapa pengeluaran Anda tiap bulan? Apakah Anda memiliki dana darurat? Setelah mengetahui semua hal itu, segera taruh informasi itu dan rapikan dalam bentuk spreadsheet.

3. Melakukan Aksi
Setelah Anda mengetahui segala hal, termasuk utang dan memasukannya ke dalam bentuk dokumen yang mudah dibaca, sekarang saat yang tepat untuk membuat anggaran. Mulailah dari menggabungkan pendapatan bulanan Anda dan pasangan dan menghintung kebutuhan tiap hari, bulanan, dan tahunan. Misalnya, makanan, biaya listrik hingga PBB (Pajak Bumi dan Bangunan).

4. Lakukan Pemeriksaan Tiap Bulan
Lakukan tinjauan tiap bulannya. Jika Anda menghabiskan biaya lebih dari yang diperhitungkan, potong kelebihan tersebut dari biaya bulan depan. Tapi jika Anda bisa lebih hemat, gunakan uang tersebut untuk menghibur diri dan pasangan. Ingat, Anda juga mengenai kebutuhan yang lebih banyak pada musim liburan, bulan ulang tahun dan hari Raya.

Tips Memilih Asuransi Pendidikan Anak

Jakarta - Saat ini, banyak sekali perusahaan yang menawarkan produk asuransi pendidikan. Masalah yang kemudian muncul adalah, apakah kita mengambil asuransi pendidikan untuk melindungi anak dari risiko kematian atau untuk membiayai pendidikan itu sendiri.

Perlu dipahami asuransi jiwa dan asuransi pendidikan adalah dua produk yang berbeda. Sebuah polis asuransi atau asuransi jiwa, secara spesifik adalah sebuah kontrak untuk melindungi risiko (risiko kematian pada asuransi jiwa) yang dapat dihitung nilai ekonomisnya.

Sementara itu, sebuah sebuah produk Unit-Linked yang kemudian dijual menjadi asuransi pendidikan bukanlah sebuah produk asuransi murni. Asuransi ini mengandung unsur investasi dimana dalam kondisi ini kegunaan investasi jauh lebih tinggi dibandingkan kebutuhan asuransi biasa.

Keputusan untuk memilih produk tentu saja kembali kepada kebutuhan Anda, sebaiknya memisahkan produk asuransi dan investasi. Berikut tips memilih asuransi pendidikan oleh pakar keuangan Aidil Akbar yang dikutip dari DetikFinance.

1. Menghitung Besarnya Biaya Pendidikan
Satu hal penting yang harus diperhatikan sebelum memilih asuransi pendidikan adalah menghitung dengan teliti biaya pendidikan saat ini dan biaya tersebut di masa mendatang. Pertama-tama, tentukan dimana Anda akan menyekolahkan anak kemudian hitung biaya sekolah tersebut saat ini.

Dengan menggunakan metode Time Value of Money (Nilai Uang Terhadap Waktu), hitung kebutuhan dana tersebut di masa yang akan datang sesuai dengan tahapan kapan anak tersebut masuk sekolah. Banyak orang salah dalam mengartikan dan melakukan perhitungan ini, sehingga sangat dianjurkan untuk benar-benar detail dalam melakukan perhitungan dengan memperhatikan tingkat inflasi dan tingkat kenaikan biaya pendidikan.

2. Membandingkan Besarnya Premi dengan Nilai Tabungan
Langkah selanjutnya adalah menghitung berapa besar premi yang harus dibayarkan ke perusahaan asuransi, kemudian bandingkan dengan nilai tabungan pendidikan yang dapat ditarik ketika masa penarikan tiba. Dari situ dapat dilihat apakah dana yang akan diberikan cukup untuk memenuhi kebutuhan biaya-biaya sekolah anak Anda.

Hati-hati dan harus selalu diingat bahwa biasanya illustrasi dari perusahaan asuransi memberikan nilai investasi yang dapat ditarik (dibagikan) dalam nilai uang sekarang, bukan nilai uang di masa mendatang.

3. Fleksibilitas Penarikan Dana Pendidikan
Hal lain yang harus juga diperhatikan adalah seberapa fleksibel nilai tunai atau tahapan dana pendidikan tersebut bisa ditarik. Banyak dari tahapan biaya pendidikan tidak bisa ditarik kecuali pada tahun-tahun yang telah ditentukan seperti tahun ke-7 untuk masuk SD, tahun ke 12 untuk masuk SMP dan seterusnya. Adapun dengan bertambahnya gizi dan semakin cepatnya anak-anak anda bersekolah maka ada kemungkinan dana tersebut tidak dapat ditarik sebelum saatnya.

Jadi, sangat disarankan calon klien Asuransi Pendidikan menghitung dengan teliti besarnya biaya pendidikan anak tersebut di masa yang akan datang dan melakukan perbandingan premi yang dibayarkan dengan nilai tabungan yang bisa ditarik. Apabila Anda masih menemui kesulitan, ada baiknya Anda meminta advice atau rekomendasi dari Perencana Keuangan (Financial Planner / Advisor) yang berpengalaman dan mengerti produk sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk asuransi pendidikan agar Anda tidak salah memilih produk asuransi.


sumber : wolipop / asuransi jiwa

Tips Mengelola Uang Setelah Tak Lagi Jadi Karyawan

Jakarta - Seorang pekerja harus memiliki perencanaan keuangan saat dirinya tak lagi bekerja dan memulai usaha sendiri. Idealnya, saat ia berpindah dari seorang pegawai menjadi seorang wirausaha harus disertai target bahwa di akhir tahun kelima usaha sudah bisa berjalan sendiri (dijalankan oleh orang lain) tanpa harus terlibat lagi 100%, seperti yang diungkapkan oleh pakar keuangan Aidil Akbar Madjid kepada Detik Finance.

Akan tetapi banyak sekali masyarakat yang terbawa euphoria menjadi seorang pengusaha melupakan fundamental yang harus dipersiapkan sebelum memulai usaha mereka yang akan mempengaruhi Perencanaan Keuangan keluarga mereka. Adapun Sebuah Perencanaan Keuangan sederhana yang harus dilakukan sebelum memulai suatu usaha adalah sebagai berikut:

1. Anda harus memiliki dana darurat atau dikenal dengan istilah emergency fund. Dana ini adalah sejumlah dana yang besarannya antara 6 bulan sampai 12 bulan kebutuhan bulanan Anda yang disimpan didalam rekening tabungan terpisah. Dana ini hanya dipakai untuk keadaaan darurat alias genting.

2. Belilah asuransi baik asuransi jiwa maupun kesehatan. Untuk jiwa cukup polis asuransi untuk Anda dan pasangan, sedangkan kesehatan (terutama rawat inap) Anda harus memiliki untuk seluruh anggota keluarga.

3. Setelah itu barulah Anda mempersiapkan keranjang-keranjang investasi misalnya Dana Pendidikan Anak, Dana Pensiun, Dana Perluasan Usaha atau membuka usaha baru, Dana Naik Haji, membeli aset (rumah, mobil dll).

Untuk dana pendidikan anak, Anda dapat berinvestasi secara langsung ke produk investasi seperti Reksa Dana, dan yang sekarang marak adalah menggunakan Asuransi sebagai produk investasi khususnya untuk pendidikan anak. Hal ini sah-sah saja akan tetapi harus diingat bahwa masing-masing produk memiliki kelebihan dan kekurangan, dengan nominal yang sama kelemahan dari asuransi pendidikan adalah tidak maksimalnya hasil investasi yang bisa didapatkan dibandingkan investasi yang mirip seperti di Reksa Dana.

Yang harus Anda perhatikan adalah menghitung kebutuhan dana pendidikan tersebut. Kemana ingin menyekolahkan anak, hitung berapa besar biaya pendidikan sekarang, kemudian dengan kenaikan inflasi tahunan hitung biaya pendidikan tersebut kelak. Hal detail tersebut sering dilupakan oleh banyak orang. Padahal hal tersebut yang akan membedakan berapa besar biaya yang harus dipersiapkan. Dari situ Anda dapat mencadangkan besaran dana pendidikan yang harus dipersiapkan.

Untuk dana pensiun terdapat beberapa cara yang dapat Anda lakukan:

Dana pensiun dapat dilakukan apabila jarak usia Anda sekarang sampai ke target pensiun masih tersedia cukup waktu (idealnya di atas 15 tahun). Dana pensiun menjadi penting dan sering terlupakan karena umumnya perusahaan kecil (UMKM) belum memberikan benefit berupa dana pensiun bagi pemilik dan karyawan perusahaannya.

Apabila target pensiun Anda kurang dari jangka waktu itu alias terlalu mepet, maka Anda dapat mengandalkan dana pensiun dari usaha yang sudah dijalankan sekarang atau usaha baru baik itu perluasan dari usaha sekarang atau benar-benar jenis usaha baru.

Usahakan di akhir tahun kelima, usaha Anda idealnya sudah dapat berjalan sendiri alias dijalankan oleh orang-orang kepercayaan. Dengan kata lain mulai dari sekarang sudah waktunya Anda mencari orang-orang kepercayaan untuk melanjutkan usaha Anda. Karena kalau masih mengandalkan diri sendiri dalam menjalankan usaha tersebut maka belum dapat disebut sebuah bisnis. Dengan cara seperti ini niscaya Anda dapat pensiun dengan nyaman dan kecukupan dana yang akan tetap mengalir dari usaha Anda.



sumber : wolipop/asuransi jiwa